Setelah ditunggu cukup lama akhirnya pada Kamis 12 Maret 2020 perjanjian kerja sama pengembangan wana wisata Penggaron atau Jateng Park ditandatangani oleh Wahyu Kuncoro selaku Direktur Utama PERUM PERHUTANI dengan Lies Bahunta selaku Direktur Utama PT Penggaron Sarana Semesta (PT PSS) dan secara paralel juga ditandatangani perjanjian kerja sama antara PT PSS dengan Prijo Handoko Rahardjo selaku Direktur Utama PT  Taman Wisata Jateng (PT TWJ).

Hal-hal yang disepakati pada Perjanjian Kerja Sama antara lain nilai investasi sebesar satu trilyun rupiah akan dilaksanakan secara bertahap selambatnya dalam 10 tahun, bentuk kerja sama build operate transfer (BOT),  lokasi kerja sama adalah kawasan hutan produksi Perhutani KPH Semarang, termasuk wilayah administrasi Kabupaten Semarang.  Obyek kerja sama  seluas + 371,88 hektar, yang dpt dibangun sbg sarana wisata 10%.   Dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama tersebut maka PT TWJ akan mengembangkan dan mengelola Jateng Valley untuk jangka waktu 35 tahun.

Kerja sama pembangunan Jateng Valley akan dilaksanakan melalui 4 tahap yaitu masa persiapan antara lain penyusunan Master Plan, FS, DED, perizinan, dilanjutkan masa pembangunan dan masa pengusahaan.

PT TWJ mengusulkan nama lain yang akan menjadi trademark baru yaitu Jateng Valley dengan tagline ”Where nature meets dreams”, nama ini diharapkan akan lebih menjual terutama untuk wisatawan mancanegara.  Penyesuaian nama yang semula Jateng Park menjadi Jateng Valley telah disetujui para pihak dengan mempertimbangkan nilai komersial sesuai kontur lahan dan kondisi di lokasi.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik keseriusan para pihak yang terlibat pada proses mewujudkan Jateng Park, setelah proses panjang yang harus ditempuh diharapkan nantinya Jateng Valley akan menjadi show window pengelolaan kawasan hutan negara yang terintegrasi dengan fasilitas wisata kekinian.

Ganjar berpesan khususnya kepada TWJ sebagai investor untuk meminimalkan tebangan pohon walaupun secara peraturan diperbolehkan sampai dengan 10% dari luas kawasan yang menjadi obyek kerja sama.  Dari aspek komersial Ganjar menambahkan pembangunan Jateng Valley bisa mencontoh beberapa kota di negara maju yang telah berhasil mengembangkan wisata skala internasional dan apabila diperlukan dapat bekerja sama dengan perusahaan yang sudah memiliki brand internasional.

Pada kesempatan tersebut Kepala Bappeda Prasetyo Aribowo menyampaikan bahwa pembangunan Jateng Park sudah menjadi bagian dari program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang direncanakan pada RPJMD tahun 2018-2023 serta didukung kebijakan Pemerintah Pusat dengan dicantumkannya Jateng Park pada lampiran Peraturan Presiden nomor 79 tahun 2019 sebagai obyek strategis setara dengan PSN. 

Untuk itu secara bersama Pemerintah Pusat dan Daerah akan memberikan dukungan bagi terwujudnya Jateng Valley.  Prasetyo menambahkan akan dilaksanakan ground breaking oleh Gubernur Jawa Tengah sebagai momentum sekaligus deklarasi dukungan semua pihak yang direncanakan pada Agustus 2020.

Sementara itu Asisten Ekbang Peni Rahayu menjelaskan dari aspek hukum bahwa Pembangunan Jateng Park akan mengacu Peraturan Menteri LHK nomor P-31 tahun 2016 tentang Pedoman kegiatan Usaha Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Pada Hutan Produksi, demikian halnya dari aspek tata ruang, lokasi untuk Jateng Valley sudah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yaitu termasuk wilayah Pengembangan wisata.

Handoko sebagai pihak investor menjelaskan bahwa konsep pembangunan Jateng Valley akan dibagi menjadi 5 zona yaitu Theme Park, Cultural Park, Eco Safari Park, Water Park dan zona outdoor activity.  Dengan membangun Jateng Valley pihaknya berharap akan terjadi multiplier effect secara langsung melalui serapan tenaga kerja maupun tak langsung peningkatan usaha pendukung wisata masyarakat sekitar lokasi.  Pihaknya juga merancangkan diperolehnya Green Certificate untuk Jateng Valley, karena 2/3 wisatawan mancanegara lebih suka mengujungi area wisata yang sudah mempunyai Green Certificate.